Tampilkan postingan dengan label Tausyiah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tausyiah. Tampilkan semua postingan

Selasa, September 25, 2007

Berapa lama kita di kubur ?

Awan sedikit mendung, ketika kaki kaki kecil Yani berlari-lari gembira di atas jalanan menyeberangi kawasan lampu merah Karet.

Baju merahnya yg Kebesaran melambai Lambai di tiup angin. Tangan kanannya memegang Es krim sambil sesekali mengangkatnya ke mulutnya untuk dicicipi, sementara tangan kirinya mencengkram Ikatan sabuk celana ayahnya.

Yani dan Ayahnya memasuki wilayah pemakaman umum Karet, berputar sejenak ke kanan & kemudian duduk Di atas seonggok nisan "Hj Rajawali binti Muhammad 19-10-1915:20- 01-1965"

"Nak, ini kubur nenekmu mari Kita berdo'a untuk nenekmu" Yani melihat wajah ayahnya, lalu menirukan tangan ayahnya yg mengangkat ke atas dan ikut memejamkan mata seperti ayahnya. Ia mendengarkan ayahnya berdo'a untuk Neneknya...

"Ayah, nenek waktu meninggal umur 50 tahun ya Yah." Ayahnya mengangguk sembari tersenyum, sembari memandang pusara Ibu-nya.

"Hmm, berarti nenek sudah meninggal 42 tahun ya Yah..." Kata Yani berlagak sambil matanya menerawang dan jarinya berhitung. "Ya, nenekmu sudah di dalam kubur 42 tahun ... "

Yani memutar kepalanya, memandang sekeliling, banyak kuburan di sana . Di samping kuburan neneknya ada kuburan tua berlumut "Muhammad Zaini: 19-02-1882 : 30-01-1910"

"Hmm.. Kalau yang itu sudah meninggal 106 tahun yang lalu ya Yah", jarinya menunjuk nisan disamping kubur neneknya. Sekali lagi ayahnya mengangguk. Tangannya terangkat mengelus kepala anak satu-satunya. "Memangnya kenapa ndhuk ?" kata sang ayah menatap teduh mata anaknya. "Hmmm, ayah khan semalam bilang, bahwa kalau kita mati, lalu di kubur dan kita banyak dosanya, kita akan disiksa dineraka" kata Yani sambil meminta persetujuan ayahnya. "Iya kan yah?"

Ayahnya tersenyum, "Lalu?"

"Iya .. Kalau nenek banyak dosanya, berarti nenek sudah disiksa 42 tahun dong yah di kubur? Kalau nenek banyak pahalanya, berarti sudah 42 tahun nenek senang dikubur .... Ya nggak yah?" mata Yani berbinar karena bisa menjelaskan kepada Ayahnya pendapatnya.

Ayahnya tersenyum, namun sekilas tampak keningnya berkerut, tampaknya cemas ..... "Iya nak, kamu pintar," kata ayahnya pendek.

Pulang dari pemakaman, ayah Yani tampak gelisah Di atas sajadahnya, memikirkan apa yang dikatakan anaknya... 42 tahun hingga sekarang... kalau kiamat datang 100 tahun lagi...142 tahun disiksa .. atau bahagia dikubur .... Lalu Ia menunduk ... Meneteskan air mata...

Kalau Ia meninggal .. Lalu banyak dosanya ...lalu kiamat masih 1000 tahun lagi berarti Ia akan disiksa 1000 tahun?

Innalillaahi WA inna ilaihi rooji'un .... Air matanya semakin banyak menetes, sanggupkah ia selama itu disiksa? Iya kalau kiamat 1000 tahun ke depan, kalau 2000 tahun lagi? Kalau 3000 tahun lagi? Selama itu ia akan disiksa di kubur. Lalu setelah dikubur? Bukankah Akan lebih parah lagi?

Tahankah? padahal melihat adegan preman dipukuli massa ditelevisi kemarin ia sudah tak tahan?

Ya Allah... Ia semakin menunduk, tangannya terangkat, keatas bahunya naik turun tak teratur.... air matanya semakin membanjiri jenggotnya

Allahumma as aluka khusnul khootimah.. berulang Kali di bacanya DOA itu hingga suaranya serak ... Dan ia berhenti sejenak ketika terdengar batuk Yani.

Dihampirinya Yani yang tertidur di atas dipan Bambu. Di betulkannya selimutnya. Yani terus tertidur.... tanpa tahu, betapa sang bapak sangat berterima kasih padanya karena telah menyadarkannya arti sebuah kehidupan... Dan apa yang akan datang di depannya...

"Yaa Allah, letakkanlah dunia ditanganku, jangan Kau letakkan dihatiku..."

Artikel ini saya dapat dari sebuah milis email "thanks a lot untuk penulis artikel ini saya tidak tahu siapa penulis pertama artikel ini dan sungguh sangat bermanfaat buat kita semua yang membacanya"

Jangan Ragu dengan Rezeki Allah

Saya mau pergi ke rumah orang tua saya. Waktu itu, anak saya yang masih berumur lima tahun dan menjelang sekolah TK itu menangis ingin ikut. Awalnya saya tidak berencana untuk membawa dia, namun karena tangisnya tidak mau berhenti, akhirnya saya ajak juga.

Sebelum berangkat, dia saya beri janji. Agar selama perjalanan nanti jangan jajan. Sebab saya sedang tidak punya uang. Saya hanya ada uang untuk ongkos berangkat ke rumah orang tua saya saja. Selebihnya saya tidak punya apa-apa.

Namun, yang namanya anak, walaupun sudah berjanji tidak jajan, begitu melihat berbagai macam barang di pingiran terminal, keinginannya mendadak bangkit. Pertama ia melihat berjejernya para pedagang pakaian. Ia minta dibelikan kaos ala pemain bola dunia. Ia memaksa saya untuk membeli kaos yang bertuliskan salah satu pemain sepak bola Inggris, Beckam. Namun tidak saya kabulkan. Karena saya tidak punya uang untuk itu.

Dengan berbagai cara, ia saya hibur agar tidak minta kaos-kaos itu. Ia segera saya bawa ke tempat di mana banyak berjejer delman. Sebab dengan begitu ia akan lupa karena melihat banyak kuda di situ. Namun sial, ternyata di kompleks itu juga ada pedagang buah yang begitu menarik menata dagangannya. Ia minta dibelikan apel. Permintaan itupun tidak saya kabulkan. Sekedar untuk menghibur dia, saya bisikan kalimat padanya. “Sabar ya… nanti di rumah nenek ada apel.”

Cepat-cepat saya bawa anak saya ke tempat bis jurusan daerah orang tua saya. Ia segera saya ajak naik, dan duduk di depan sendiri, di samping sang sopir. Ia agak terhibur, karena banyak berlalu lalang truk gandeng dan kendaraan tangki pertamina yang besar-besar itu. Sebab ia sangat senang kalau melihat kendaraan besar semacam itu.

Saya lega. Saya lebih tenang karena sudah tidak akan melewati pasar lagi. Dengan demikian anak saya tidak akan minta jajan lagi. Saya duduk sambil merangkul anak saya. Dia begitu nikmat melihat lalu lalangnya kendaraan di depan kami. Ia sudah lupa dengan apa-apa yang ia minta di sepanjang perjalaan tadi

Sebenarnya saya juga merasa kasihan. Seandainya saya punya uang cukup, tentu saya tidak akan berbuat sekejam itu. Tentu saya akan menuruti kehendaknya, walaupun mungkin tidak semua saya turuti. Orang tua mana sih yang tidak ingin memberikan sesuatu kepada anaknya?

Sedang asyik-asyiknya, kami menikmati berbagai macam kendaraan di depan bis yang kami tumpangi, tiba-tiba seorang ibu naik dan duduk persis di sebelah saya. Sebuah keranjang kecil berisi berbagai macam barang dari pasar ada dalam keranjang tersebut.

Kami saling berbasa-basi. Ternyata ia satu jurusan dengan saya. Beberapa menit sebelum bis jalan, perempuan itu menyodorkan tiga buah apel kepada anak saya. Saya kaget. Seolah perempuan itu tahu bahwa anak saya sedang menginginkan apel. Anak saya langsung memakannya dengan lahap. Saya melihat nikmatnya anak saya makan apel itu dengan linangan air mata. Saya tak bisa membelikan buah itu, tapi Allah tahu tentang keinginan anak saya. Sehingga lewat perempuan itu dia dapat menikmati apel. Betul-betul tidak saya sangka sebelumnya. Betul-betul di luar jangkauan nalar saya.

Sampai di rumah orang tua, saya lebih kaget lagi. Saya sama sekali tidak membayangkan saudara-saudara saya akan berkerumun menemui saya. Dan mereka seolah berlomba memberikan uang kepada anak saya. Sampai nenek saya yang seharusnya saya beri uang justru memberikan rupiah kepada anak saya. Seolah mereka tahu bahwa kami sedang tidak mempunyai uang. Seolah mereka tahu bahwa saya ada dalam keadaan sangat kesulitan dalam hal keuangan.

Sepulang dari rumah bapak ibu saya, saku celana dan baju anak saya tak ada yang kosong dari lembaran-lembaran uang. Ahirnya uang itu bisa dipergunakan anak saya untuk membeli baju bola yang sejak lama ia inginkan. Bisa membeli buah apel dan bakso di pasar. Dan yang lebih mengharukan adalah bisa membantu saya untuk mengisi arisan di lingkungan RT saya.

Sambil melihat anak saya menikmati semangkok bakso, saya hanya bisa bergumam, bahwa rizki Allah datang selalu tak terduga. Walaupun saya sedang tidak punya usaha, karena sedang mengalami kebangkrutan, tapi Allah tetap menyodorkan rizki kepada kami.

Sebuah keyakinan tentang ke-maha besar-an Allah, ahirnya tumbuh kembali. Puing-puing kesusahan hidup dan keraguan tentang rizki Allah semakin terpendam. Apalagi kalau mengingat firman Allah, - Dan tak ada suatu binatang melatapun di muka bumi ini melainka Allah lah yang memberi rezekinya-, maka keraguan itu makin tidak ada. Sayang seribu sayang, hamba yang kecil ini masih begitu gampang dan mudah dihinggapi rasa ketakutan tidak kebagian rizki.

Artikel ini dikutip dari penulis Sus Woyo
Design Header by:
Parta Suwanda