Tampilkan postingan dengan label Oase Iman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Oase Iman. Tampilkan semua postingan

Rabu, September 26, 2007

Bercita-Citalah...

Bismillah...

"Kalau kita memulai langkah dengan rasa takut, maka sebenarnya kita tidak pernah melangkah... " (A. H. Nayyar, ph. D, Presiden Pakistan Peace Coalition).

Tidak sedikit manusia yang tidak memiliki cita-cita, pesimis menjalani hidup, "pasrah" dalam menjalani dan menerima hidup. Tak sedikit pula manusia yang banyak bermimpi, berkhayal dan selalu berandai-andai tanpa usaha untuk mencapai apa yang diimpikannya.

Tidak semata-mata Allah SWT. Menciptakan manusia tanpa tujuan dan harapan. Ketika manusia mulai lahir dan menghirup hawa dunia, maka ketika itulah manusia harus siap menerima dan menunaikan amanah Allah di muka bumi ini. Dalam hidup ada mega proyek yang harus dicapai oleh manusia, teruslah mencoba untuk melangkah setahap demi setahap hingga akhirnya Allah memberikan kemenangan dan keberkahan tujuan kita. Ia adalah cita-cita.

Cita-cita merupakan energi dan motivasi, bukan obsesi tak terkendali. Ia merupakan perencanaan yang terorganisir dan tersusun rapih bukan khayalan menggunung, meluap dalam lautan hidup dan hanya sekedar buih. Ia adalah ruh yang dapat membangkitkan kemalasan menjadi kreatifitas, sikap pesimis menjadi optimis, kelemahan menjadi kekuatan. Ia adalah "motor" yang dapat mensinergiskan ikhtiar dan doa, ruh, jasad dan akal untuk senantiasa bekerjasama dalam mewujudkan tujuan.

Jangan takut untuk memiliki cita-cita, karena ia akan menggerakkan jasad untuk aktif dan enerjik, akal untuk kreatif dan inovatif, jiwa dan ruh untuk senantiasa dekat pada Rabbnya. Cita-citalah yang telah membuat seorang Imam Ahmad bertahan terhadap cambukan penguasa tirani dalam mempertahankan keyakinannya bahwa al-Qur`an itu bukan makhluk, cita-cita pula yang telah membuat seorang ibu melimpahkan kasih sayang terhadap anaknya, senantiasa memenuhinya dengan doa dan cinta.

Jangan takut untuk bercita-cita meski dalam keadaan sulit dan terhimpit, lemah dan tak berdaya. Tetap kuatkan dan bulatkan tekad dalam diri untuk mencapai cita-cita besar, yang akan bermuara pada samudera tawakkal. Adalah Rasulullah SAW. Dan kaum muslimin yang bersamanya, tetap memiliki cita-cita besar dan agung meski beliau dalam keadaan lemah dan sulit. Dalam peristiwa perang Khandaq, pasukan muslimin hanya berjumlah 3000 sedangkan pasukan kafir berjumlah 10. 000. Namun, keadaan itu tidak membuat pasukan muslimin lemah dan putus asa, malah sebaliknya, kelemahan dan kekurangan itu dapat menjadi kekuatan dan memicu kaum muslimin untuk berfikir kreatif. Akhirnya ide cemerlang muncul dari seorang Salman al-Farisi tentang strategi parit.

Bahkan disisi lain, ketika Rasulullah sedang membuat parit, beliau mengungkapkan cita-cita besarnya, hal ini diceritakan oleh al-Barra`. Ia Berkata, "Saat menggali parit, di beberapa tempat kami terhalang oleh tanah yang sangat keras dan tidak bisa digali dengan cangkul. Kami melaporkan hal ini kepada Rasulullah SAW. Beliau datang, mengambil cangkul dan bersabda, "Bismillah... ", kemudian menghantam tanah yang keras itu dengan sekali hantaman. Beliau bersabda, "Allah Maha Besar, aku diberi kunci-kunci Syam. Demi Allah aku benar-benar bisa melihat istana-istananya yang bercat merah saat ini. " Lalu beliau menghantam untuk yang kedua kalinya bagian tanah yang lain. Beliau bersabda lagi, "Allah Maha Besar, aku diberi tanah Persi. Demi Allah saat ini pun aku bisa melihat istana Mada`in yang bercat putih. " Kemudian beliau menghantam untuk yang ketiga kali dan bersabda, "Bismillah... ", maka hancurlah tanah dan batu yang masih menyisa. Kemudian beliau bersabda, "Allah Maha Besar, aku diberi kunci-kunci Yaman. Demi Allah dari tempatku ini aku bisa melihat pintu-pintu gerbang Shan`a.."

Meskipun cita-cita dan harapan Rasulullah SAW. Belum terealisasi ketika beliau masih hidup, namun cita-cita yang terungkapkan dan tervisualisasikan telah membakar semangat juang kaum muslimin dan endingnya ialah kaum muslimin memenangkan perang Khandaq dan cita-cita Rasulullah SAW. Terealisasi ketika masa kekhalifahan Umar bin Khatthab. Maha Besar Allah.

Saudaraku... Bercita-citalah....
Bercita-citalah menjadi hamba Allah yang ta`at dan "Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya... "

Bercita-citalah menjadi hamba Allah yang ikhlas, tawakkal dan sabar dalam menjalani setiap fase hidup....

Bercita-citalah menjadi seorang anak yang sholih, orang tua yang bijak dan adil, suami atau isteri yang memiliki limpahan kasih sayang pada setiap anggota keluarga, murid yang sholih dan penuh prestasi, guru yang dapat menjadi teladan bagi anak didiknya.

Bercita-citalah memiliki keluarga yang penuh kasih sayang, saling pengertian dan mengingatkan dalam kebaikan, dan senantiasa ada dalam suasana Islami.

Bercita-citalah menjadi karyawan yang jujur dan berprestasi, pempimpin yang adil dan penuh kasih terhadap bawahan, direktur yang rendah hati, senantiasa tawadhu` dan kona`ah.

Bercita-citalah memiliki ketenangan jiwa, keteguhan hati dan kepercayaan diri sehingga dapat dengan tulus mempercayai orang lain dan mendapat kepercayaan yang baik.

Bercita-citalah dibebaskan hati ini dari segala penyakit hati, iri, dengki, hasud, prasangka buruk, sombong, takabbur, bangga pada diri sendiri...

Bercita-citalah memiliki pekerjaan yang layak, hasil yang berkah serta menjadi seorang hartawan yang dermawan.
Bercita-citalah untuk masuk syurga dan terhindar dari api neraka....

Dan.pada akhirnya bercita-citalah agar Allah mengambilkan kita dalam keadaan yang baik. Khusnul khatimah...

"Kini jiwa ini merindukan syurga... " (Umar bin Abdul `Aziz)

Setitik hikmah dari samudera hikmah.

Wasanawati et yahoo dot com


Oleh Ina Mahardhika


Ibu Tua Penjual Makanan dan Lelaki Pengemis

Ibu tua penjual makanan ringan. Di bawah terik, berjalan... berjalan... payah menjajakan dagangan. Berharap ada yang membeli. Berharap ada yang sudi memberikannya sedikit rezeki halal. Bukan mengemis. Bukan merengek meminta-minta....

Terenyuh.

Benar-benar terenyuh.

Wanita luar biasa? Betul, itu tidak bisa dipungkiri. Saya melihatnya sendiri. Senja di raut wajahnya, dua kakinya yang kurus, pakaian lusuh apa adanya. Mata saya sejenak tertegun menatapnya. Bagaimana mungkin wanita seperti ia mampu berjalan merentas kota demi mencari sesuap nasi?

Ah, bukan! Bukan sesuap nasi, tapi sepiring, dua piring, atau mungkin tiga piring. Dia mungkin tengah mencari nasi untuk cucu-cucunya. Mungkin untuk anaknya yang lumpuh atau tidak bisa mencari uang sendiri karena sesuatu hal. Mungkin... mungkin....

"Permisiii!" lelaki itu menampakkan wajahnya di warteg. Masih terlihat kuat, muda, dan punya potensi untuk seperti orang-orang lain. Jadi kuli. Jadi tekhnisi. Jadi supir. Jadi apa saja. Tapi, di antara semua pekerjaan mulia, dia memilih untuk menengadahkan tangannya. Meminta uang. Mengemis belas kasihan orang-orang. Jangankan iba, tidak jijik saja sudah syukur melihatnya.

Teringat si ibu penjual makanan ringan.Demi Allah saya bersumpah: lelaki itu bukan kakek-kakek. Dan... dia itu laki-laki! Bukan perempuan.Sekali lagi: bukan perempuan! Lalu, kenapa dia tidak lebih membanggakan dari si ibu penjual makanan?

Itu pertanyaan yang harus dijawab lelaki pengemis. Kenapa dia jadi pengemis? Kenapa dia tidak sedikit pun memiliki harga diri?

***

Mencari nafkah adalah kemuliaan tersendiri. Dia memiliki porsi pahalanya tersendiri di sisi Allah. Setiap muslim harus mencari jalan untuk menghasilkan uang dengan halal. Itu harus, bukan pilihan. Mengemis? Itu tidak termasuk hitungan. Bagaimana mungkin muslim selalu mengemis uang pada orang lain? Bukankah otot masih ada? Bukankah tenaga masih ada? Bukankah ajal belum datang? Bukankah ada harga diri yang harus diperjuangkan harganya di depan peradaban?

Saya belajar dari si ibu tua. Setua itu masih sanggup dan terus mencari nafkah yang halal. Banyak cara, banyak kesempatan. Di dunia ini, satu hal yang bisa kita percaya sama-sama:rezeki kita tidak akan habis sebelum kita mati. Ajal baru akan datang ketika daftar rezeki kita sudah habis.

Tidak perlu takut kekurangan rezeki.

Tidak perlu takut mati karena tidak kebagian rezeki.

Semua makhluk hidup sudah punya jatahnya masing-masing. Tidak akan tertukar. Tidak akan terserobot makhluk lain. Karena itu, untuk apa kita ribut masalah rezeki besar atau kecil. Lebih baik pikirkan saja dengan cara yang mana kita mencari rezeki. Sebab, itu adalah tanggung jawab kita. PertanyaanAllah di akhirat nanti.

Halal atau tidak?

Terhormat atau tidak?

Tentukanlah. Jawablah. Waktu kita tidak lama....

Oleh: Ai Januaraffa

Ramadhan, Ketika TV Memperalat Agama

Kiranya benar aforisma Mc Luhan yang menyatakan bahwa medium is message, media adalah pembawa pesan. Bahkan, kini media itu sendiri juga merupakan pesan yang hendak dikomunikasikan pada publik. Sehingga, bentuk komunikasi itu sendiri menentukan isi dari komunikasi. Fenomena medium is message, tampak jelas dari TV sebagai media sekaligus pesan itu sendiri. Artinya, TV bukan sekedar produk teknologi yang bebas nilai, tetapi alat untuk mencapai kepentingan tertentu.

TV sebagai pembawa pesan dan pesan itu sendiri, tentunya membawa pesan dari pemilik TV. Ini dapat kita saksikan dari, maraknya tayangan religi selama ramadhan yang dipertunjukkan TV kita yang tidak lain merupakan bagian dari kepentingan bisnis belaka.

Tayangan-tayangan religi yang disiarkan hampir semua TV, merupakan upaya TV untuk memberikan pesan tertentu agar menarik perhatian pemirsa. Sehingga, pemirsa dengan sendirinya akan menonton TV. Tayangan religi diproduksi sebagai magnet yang menarik pemirsa yang sedang menjalankan puasa untuk menonton TV.

Dengan banyaknya pemirsa yang tersihir dengan tayangan religius dari TV, maka secara otomatis rating dari TV akan meningkat. Peningkatan rating pada gilirannya akan mendatangkan iklan-iklan untuk berpartisipasi dalam TV yang banyak di tonton. Dengan datangnya Iklan tentunya memberikan sumber pemasukan besar bagi TV.

Padahal, rating TV tidak ada hubungannya dengan religiusitas penonton selama ramadhan. Namun, TV mampu memanfaatkan celah ramadhan sebagai lahan bisnis yang sangat menggiurkan guna mendapatkan pemasukan dengan menjual produk-produk berlatar belakang agama.

Ramadhan merupakan momentum paling pas bagi TV untuk menampilkan sebanyak-banyaknya tayangan-tayangan religi. Tidak peduli bermakna atau tidak, TV-TV kita berubah menjadi sangat sopan dan alim dengan senantiasa mengelar tayangan religi dari dini hari menjelang saur hingga waktu berbuka tiba.

Dari sebelumnya, mempertontonkan acara-acara yang sifatnya sekuler berubah dengan penayangan penuh acara yang bernuansa agama. Saat ramadhan tiba tidak lagi kita temukan, pakaian-pakaian minim memamerkan lekuk dan keindahan tubuh bergentayangan dalam TV kita. Akan tetapi, selama ramadhan, kita akan banyak disuguhi penampilan artis-artis kita yang berkerudung dan berpeci memakai pakaian tertutup.

Namun, sayangnya kesalehan TV kita hanya akan bertahan selama satu bulan selama ramadhan saja. Setelah ramadhan selesai, semua kembali pada habitatnya yang asli. Kembali menyesuaikan dengan aktivitas sebelum ramadhan. Tidak ada satu TV setelah ramadhan akan bertahan dengan model-model acara yang mengusung tema-tema religi.

Seolah ada kesalehan instan yang hendak di inginkan dari tayangan-tayangan TV-TV tersebut. Realitas ini sebenarnya, menggambarkan bagaimana TV memanfaatkan agama demi proyek komersialisasi karena momentum yang tepat. Selama ramadhan acara-acara TV di desain dengan warna-warni keagamaan, demi mengejar dan menyelaraskan dengan identitas kesucian bulan ini.

Padahal, kesalehan akan terbentuk melalui komunikasi yang intens dengan ilahi, tidak sekedar momentum jangka pendek. Dan melalui berbagai ragam tayangan bernuansa keagamaan saja. Apalagi tayangan-tayangan agama selama ramadhan ini oleh TV-TV kita, tidak lebih hanya demi kepentingan finansial untuk mendapatkan laba.

Tayangan religi yang diakomodir dan digelontorkan tanpa idealisme selama ramadhan dan hanya ala kadarnya dalam jangka waktu yang pendek memberikan makna bahwa tayangan agama telah ditunggangi para pemilik modal demi kepentingan bisnis pertelevisian. Penayangan acara religi yang seharusnya memberikan dampak spiritualitas pada pemirsa hanya dikemas dalam bentuk hiburan sebagai bisnis pertunjukkan.

Banyaknya tayangan religi terbukti tidak memberikan efek apa-apa terhadap pemirsanya. Pemirsa TV hanya merasa terhibur dengan tayangan religi, tanpa mendapatkan makna yang mendalam dari tayangan tersebut. Sebab, penayangan acara religi mengusung nilai agama oleh para pemilik modal hanya dipergunakan mengejar dan mencari keuntungan bisnis.

Agama hanya dijadikan tameng bisnis oleh para pemilik TV, agar TV-nya tetap diminati oleh para pemirsanya. Selama ramadhan, seluruh TV yang ada berubah menjadi sangat religius, tidak ada satupun TV yang tetap mempertahankan format penyiarannya seperti sebelum ramadhan. Memasuki bulan ramadhan, mereka membalut tayangan dengan kentalnya aspek-aspek keagamaan.

Karenanya, satu-satunya jalan paling baik agar tidak terjebak dalam komersialisasi agama saat ramadhan melalui tayangan-tayangan TV. Hendaknya kita juga layak untuk berpuasa dari menonton TV guna menyelamatkan kebiadaban kapitalisme berjubah media.

Artikel ini di kutip dari Ahan Syahrul Arifin, www.eramuslim.com

Design Header by:
Parta Suwanda